Senin, 02 April 2018

Penanganan Kemacetan di Goa Gajah Ubud

Lalu lintas di perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali acap mengalami kemacetan lalu lintas perlu segera ditangani. Kemacetan mesti segera diatasi agar tidak mengganggu kenyamanan wisatawan, bahkan ujung-ujungnya bisa ditinggalkan wisatawan.

Saat ini saja sudah banyak wisatawan mengeluhkan kondisi Ubud. Selain mereka jengah dengan kondisi kemacetan lalu lintas, trotoar pun banyak yang rusak sehingga tak nyaman bagi pedestrian yang hendak menyusuri perkampungan seniman.

Pantauan di lokasi, penyebab kemacetan salah satu di antaranya adalah pembiaran pemanfaatan badan jalan untuk parkir kendaraan. Belum lagi, memang jumlah kendaraan yang melintas atau berlalu lintas di Ubud kian banyak dan tidak ada aturan pembatasan atau pengaturan.

Sementara itu, badan jalan tak lagi menampung jumlah kendaraan yang kian banyak. Pemerintah dan segenap pemangku kepentingan mesti duduk bersama untuk membahas masalah ini dan menemukan solusi yang komprehensif.

Diskusi-diskusi selayaknya terus digelar untuk sampai bisa memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas di Ubud. Apalagi, tak hanya lalu lintas, masalah sampah di perkampungan seniman juga menjadi problem lain yang juga mendesak ditangani segera. Masalah kemacetan lalu lintas dan sampah ini sebaiknya sudah tertangani sebelum pelaksanaan sebuah kegiatan internasional yang akan dilaksanakan di Goa Gajah Ubud, Gianyar pada tahun 2018.

Bisa saja, solusi yang diwacanakan bersifat jangka pendek, jangka menengah, hingga jangka panjang. Namun, beberapa langkah mendesak yang mungkin bisa segera diterapkan adalah dengan menyediakan lahan sementara bagi karyawan hotel, restoran dan pekerja lainnya di timur Pura Melanting Pasar Ubud, dan areal pasar yang terbakar sebelum diperbaiki.

Pemkab Gianyar tentu tetap perlu menyiapkan beberapa langkah untuk perluasan lahan sentral parkir. Yakni dengan memaksimalkan daerah-daerah penyangga wisata Ubud, seperti Desa Peliatan, Desa Mas, Desa Singakerta, maupun Goa Gajah.

Jika memungkinkan, lakukan pembatasan kendaraan yang masuk ke Ubud, dengan menggandeng Desa Pakraman Padang Tegal untuk memfungsikan sentral parkir di Monkey Forest, dengan menyediakan shuttle.

Saya percaya bahwa Pemerintah Gianyar sudah memiliki beberapa solusi dari kajian yang sudah dilaksanakan. Namun, apapun solusinya, segeralah buat gebrakan nyata untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas.

Puluhan GM Hotel Yogyakarta Berbaur dalam Acara Tugu Jogja Malam Hari "Hoteliers Evening Chillout"

Puluhan General Manager (GM) hotal di DIY bersama para karyawan berbaur dalam acara bertajuk Hoteliers Evening Chillout (malam santai para pengurus hotel) di Foodcourt Cafe Kampayo XT Jalan Veteran Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (13/3/2018) malam. Acara yang berlangsung meriah itu untuk menyatukan para karyawan hotel di DIY guna bersama-sama memajukan dan semakin erat mengembangkan pariwisata Tugu Jogja malam hari di DIY.

"Ini acara hiburan untuk menyatukan para pengurus dan karyawan hotel tanpa membeda-bedakan status pekerjaan di hotel masing-masing. Pokoknya semua berbaur mulai dari GM hingga karyawan yang paling bawah. Semua bersatu untuk menyatukan semangat dan kekuatan demi memajukan pariwisata DIY," kata A Retnowati, General Manager Ibis Styles yang bersama Indro "Kimpling" Suseno sebagai penggagas penyelenggara acara di sela-sela acara tersebut, Selasa (13/3/2018) malam.
Menurut Retno, acara tersebut syarat dengan hiburan dan siapa saja yang hadir dipersilahkan tampil menyanyi. "Saya juga ikut menyanyi bersama sejumlah GM hotel lainnya. Para karyawan juga diperbolehkan tampil tanpa kecuali," kata Retno penuh semangat.

Dikatakan, dengan kebersamaan seperti ini para pengelola hotel dan karyawan memiliki semangat dan spirit yang sama dalam memajukan pariwisata di DIY dan melupakan sejenak persaingan. Menurut Retno, selama ini banyak event yang digelar oleh komunitas karyawan hotel, namun itu dilakukan sendiri-sendiri sesuai bidang pekerjaan, misalnya front office sendiri, house keeping sendiri dan sebagainya. Namun, untuk event kali ini yang bertajuk Hoteliers Evening Chillout, semua berbaur mulai dari GM hingga tingkat yang paling bawah.

Dengan berbaur seperti ini, para pengelola hotel melupakan sejenak persaingan. "Yang hadir pada mala hari ini sekitar 20 GM yg hdr pada malam hari ini. Tujuannya hanya supaya kita semakin erat mengembangkan pariwisata di DIY. Dan kita tetap bersaing tapi pada saat seperti ini kita lupakan kompetisi. Jadi kita bersama-sama berkreasi untuk memajukan dan mengembangkan pariwisata di DIY," kata Retno.

Dalam acara dengan host Sukma Chatarina itu, antara lain menampilkan  Dj Tommy Kartika sebagai Proggresive & Deep House serta Dexter Band bersama artis penyanyi Retno dan Arif Ar diakhir dengan acara disco. Hotel-hotel yang berpartisipasi adalah Pesona Jogja, Ibis Styles, The 1O1, Harper,  Grand Keisha GAIA Cosmo, Dafam, Ibis Malioboro, The Rich Jogja, Grand Aston, Horison Gorup, Pop Hotels, Hyatt Regency, Lokal Hotel, Grand Mercure, Innside by Melia,  Jayakarta, Sahid Jaya, Crystal Lotus, Satoria, Ross In, Student Park, Atria, Grand Zury, Grand Cokro, Burza, Queen of the South, Unisi, Neo Malioboro, Fave Hotel, Arjuna, Sakanti, Galeri Prawirotaman, Inna Garuda,  Pandanaran, Atrium, Eastparc, Sheraton Mustika dan Jambu Luwuk.

Kamis, 23 Maret 2017

Polisi Restoran Di Surabaya Tangkap Penampung Gadis Remaja di Palangkaraya

Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya menangkap pria berinisial JS, warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah yang menampung pelarian BYA, gadis belia asal Surabaya yang masih berusia 17 tahun.
"BYA tidak pulang ke rumah sejak 10 Februari lalu, namun baru dilaporkan hilang oleh orang tuanya pada 15 Maret lalu," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga, di Surabaya, Selasa (21/3/2017)
Atas laporan tersebut, polisi kemudian menelusuri keberadaan siswi yang masih duduk di bangku kelas XII sekolah menengah kejuruan swasta di Surabaya itu.
Tim Antibandit Satreskrim Polrestabes Surabaya akhirnya berhasil melacak keberadaan BYA di Jalan Badak 15, Kamar H, Kecamatan Jekan Raya, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tempat menginap BYA tersebut merupakan restoran di Surabaya kamar indekos yang disewa JS.
Polisi menjemput keduanya pada Senin malam, sekitar pukul 23.40 waktu setempat (WITA), dan baru tiba di Kantor Polrestabes Surabaya pada Selasa siang sekitar pukul 14.30 WIB, untuk kemudian dilakukan pemeriksaan intensif.
Kepada polisi, JS mengakui pada 10 Februari lalu membelikan tiket pesawat BYA untuk berangkat ke Palangkaraya.
JS sehari-harinya memang tinggal dan beraktivitas di Palangkaraya. Pekerjaannya adalah teknisi di sebuah hotel berbintang di Palangkaraya.
Hasil pemeriksaan polisi, pertemuan keduanya diinisiasi oleh seorang gadis belia lainnya berinisial D, sahabat BYA yang dikatakan mantan kekasih JS, di kawasan wisata Monumen Kapal Selam Surabaya pada bulan September 2016.
Keduanya lantas bertukar nomor ponsel dan sejak itu intensif saling berkomunikasi.
"Karena sejak pertemuan pertama itu, JS mengaku langsung pulang ke Palangkaraya. Hubungan keduanya berlanjut melalui komunikasi via ponsel," ujar Shinto.
Dalam komunikasi via ponsel itulah BYA mengungkapkan ingin kabur dari rumah karena sudah tidak kerasan tinggal bersama orangtuanya di Surabaya. Kemudian mendorong JS untuk menampung pelariannya dengan membelikan tiket, agar segera berangkat ke Palangkaraya.
"Ngakunya, selama di Palangkaraya, keduanya berhubungan badan layaknya suami istri sebanyak 10 kali," ujar Shinto lagi.
Atas perbuatannya itu, JS dijerat pasal berlapis, yaitu pasal 322 ayat 1 KUHP tentang perbuatan membawa lari anak di bawah umur dan pasal 81 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.
Kepada wartawan, JS berdalih tidak tahu kalau BYA masih di bawah umur.
"Saya kira umurnya sudah 18 tahun," katanya lagi.